Tuesday, November 23, 2010

Cindy Claudia Harahap: Hidayah dari Bulan dan Bintang



REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Allah SWT memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. Begitulah yang terjadi pada diri Cindy Claudia Harahap, putri sulung dari musisi Rinto Harahap. Saat usia belasan tahun, hidup Cindy terombang-ambing di tengah-tengah keluarga Muslim dan non-Muslim. Keluarga ayahnya non-Muslim, sementara keluarga dari ibu beragama Islam.

Hingga suatu saat, sekitar tahun 1991, penyanyi kelahiran Jakarta pada 5 April 1975 ini, sedang tidur-tiduran di tengah malam di atas rumput halaman asrama di Australia. Saat itu, Cindy bersama sahabat karibnya yang juga artis Indonesia, Tamara Blezinsky, sedang menempuh pendidikan di St Brigidf College. Setiap hari mereka ngobrol karena hanya mereka berdua orang Indonesia.

Mereka juga mempunyai kondisi yang sama tentang orang tua. Suatu malam Cindy benar-benar diperlihatkan keagungan Allah. Ketika memandang ke langit yang cerah terlihat bulan sabit yang bersebelahan dengan bintang yang indah sekali. ''Saya bilang sama Tamara, kayaknya saya pernah lihat ini di mana ya, kok bagus banget. Kayaknya lambang sesuatu, apa ya?'', kenang penyanyi dan pencipta lagu ini.

Tamara lantas menjawab kalau itu lambang masjid. ''Jangan-jangan ini petunjuk ya, kalau kita harus ke masjid,'' tukas Cindy selanjutnya. Ia memang jarang sekali melihat masjid selama di Australia. Mungkin karena dalam dirinya sudah mengalir 'Islam' dari darah ibunya, hal itu membuat Cindy tak perlu membutuhkan proses yang panjang untuk mengenal Islam. Cindy pun berfikir untuk masuk Islam sekaligus mengajak sahabatnya, Tamara. ''Suatu hari saya terpanggil untuk memeluk agama Islam,'' kata sulung tiga bersaudara.

Setelah kembali ke Indonesia, Cindy dan Tamara pun lama berpisah. Saat kemudian bertemu lagi di Jakarta, ternyata mereka sudah sama-sama menjadi mualaf. Pelantun tembang melankolis ini mengungkapkan, inti dirinya masuk Islam lebih pada panggilan jiwa dan hati. Karena, orang memeluk agama itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, tergantung diri masing-masing.

Selain dari diri sendiri adakah pihak lain yang ikut membuatnya jatuh cinta kepada Islam? Cindy mengatakan, selain mamanya juga Mas Thoriq (Thoriq Eben Mahmud, suaminya). Dari awal saat pacaran, Cindy banyak belajar tentang Islam dari Thoriq, laki-laki keturunan Mesir. Mereka sering berdiskusi dan Thoriq pun menjelaskan dengan bijaksana dan kesabaran. Menurut Cindy, Thoriq tidak pernah memaksanya, bahkan dia sering membelikan buku-buku tentang Islam.

''Terkadang seperti anak TK, dibelikan juga buku cerita yang bergambar. Tapi justru jadi tertarik, sampai akhirnya saya dibelikan Alquran dan benar-benar saya baca apa artinya,'' tutur artis yang menikah 4 juli 1998. Cindy melisankan Dua Kalimat Syahadat di hadapan seorang guru agama Islam SMA 34 Jakarta. ''Di sebuah tempat yang sangat sederhana, tepatnya di mushalla kecil sekolah itu, saya mulai memeluk Islam,'' katanya.

Dalam proses mempelajari Islam, istri mantan pilot Sempati ini mengakui tidak menghadapi banyak kendala yang berarti, cuma memang harus menyesuaikan diri. Cindy sudah terbiasa melihat ibadah keluarganya yang beragama Islam. Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah sering ikut-ikutan puasa. Keluarganya sangat toleran terhadap perbedaan agama karena pada dasarnya semua agama itu sama, mengajarkan yang baik dan hanya caranya yang berbeda-beda. ''Papa pernah bilang apapun agama yang saya putuskan untuk dianut itu terserah,'' tuturnya. ''Yang penting dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.''

Sebelum menjadi mualaf, Cindy sempat berfikir menjadi Muslimah sepertinya repot sekali. Kalau mau masuk masjid untuk shalat, misalnya, harus wudhu dan harus pakai mukena dulu. ''Mau shalat saja harus repot. Apalagi ada bulan Ramadhan yang harus puasa. Saya sempat berfikir kalau Islam agama yang repot,'' ujarnya.

Namun, setelah mempelajari Islam dengan benar, Cindy menyadari itulah kelebihan Islam bila dibandingkan dengan agama lain. ''Kalau kita hendak menghadap Allah, kita harus benar-benar dalam kondisi yang bersih. Bersih jiwa dan bersih diri,'' tuturnya. ''Alangkah bahagianya kita sebagai umat Islam dikasih bulan Ramadhan, di mana kita diberi kesempatan untuk membenahi diri. Menurut saya, bulan Ramadhan itu bulan bonus dan setiap tahun saya merasa kangen dengan Ramadhan.''

Cindy mengisahkan, beberapa bulan setelah menikah diberi hadiah pernikahan oleh mertua berupa umrah bersama suami. Ia merasa sangat berkesan saat pertama melihat Ka'bah karena sebelumnya hanya bisa menyaksikan melalui televisi atau gambar saja. Waktu itu, dia berangkat umrah bulan Ramadhan dan ia pun sedang hamil enam bulan. Cindy mengaku justru bisa menunaikan ibadah puasa di sana yang tadinya di Jakarta tidak bisa puasa. ''Alhamdulillah, sampai di sana tidak ada kendala atau kejadian buruk apapun.''

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/10/06/138516-cindy-claudia-harahap-hidayah-dari-bulan-dan-bintang

Setahun Menjadi Mualaf, Doanya Naik Haji Langsung Terkabul

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Bulir air mata menyusuri pipi Israel Ponty Moletsane. Ia membiarkannya begitu saja. Tak ada upaya untuk mengusapnya.
Ia tak bisa menahan haru berada di hadapan Ka'bah. Ini pengalaman pertamanya dan membuatnya sangat terkesan. Emosinya terguncang hingga air matanya tak tertahankan. Moletsane mengungkapkan, perjalananya ke Arab Saudi untuk berhaji pada tahun ini sejak awal telah melahirkan beragam ketakjuban. Apalagi, saat matanya terpaku pada Ka'bah.
"Semoga Allah menerima haji saya. Semoga Allah juga melindungi semua orang yang membantu saya menempuh perjalanan menemukan agama yang benar ini," ungkapnya.

Lelaki berusia 29 tahun dari Johannesburg, Afrika Selatan ini adalah mualaf. Tahun lalu, ia memutuskan menanggalkan keyakinan Katoliknya dan beralih ke Islam. Pada tahun ini, kata Moletsane, ia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Inilah yang menjadi pangkal kian bertambahnya ketakjuban dan pengalaman rohaninya.

Perjalanan yang ditempuh Moletsane hingga akhirnya memeluk Islam cukup panjang. Selama lima tahun ia diselubungi teka-teki tentang keyakinan agama. Ia berkenalan dengan Islam saat ia bekerja di radio Channel Islam International, Johannesburg. Dan, semua pertanyaannya soal keyakinan agama terjawab setelah ia membaca Alquran.

Menurut Moletsane, ia awalnya beragama Katolik. Ia pun mempelajari segalanya dalam satu waktu. "Saya selalu melakukan perbandingan. Saat saya menemukan kontradiksi dalam kitab suci, saya terdorong untuk mempelajari lebih jauh tentang Alquran dan Islam," katanya seperti dikutip Arab News.

Pada akhirnya, ungkap dia, ia memutuskan menerima Islam. Namun, ia belum cukup berani mengungkapkannya di muka umum. Ada satu peristiwa pada tahun lalu yang akhirnya ia justru melakukan hal sebaliknya, yakni saat Channel Islam International mengirimkan Maulana Moosa Akoodie, penyiar cendekiawan, untuk meliput haji.

Saat itu, Moletsane dan satu rekannya menyiarkan liputan Akoodie yang sedang berada di Arafah. Ia meminta Akoodie mendoakannya. "Saya pikir ini adalah hal personal. Tapi, Akoodie menyebut nama saya dalam doanya saat siaran langsung itu," ujarnya.
Pada saat bersamaan, ratusan pendengar sedang menyimak siaran tersebut. "Saya terdorong suasana itu dan tiba-tiba saya menemukan semua keberanian untuk mengekspresikan apa yang telah saya yakini dalam hati. Satu jam atau setelah itu saya mengucapkan syahadat secara on air," tuturnya.
Di Arafah, melalui sambungan telepon, Akoodie mendengar pengucapan syahadat yang dilakukan Moletsane. Lalu, ucapan selamat pun berdatangan. Di antara ucapan itu berasal dari Yaqoob Vahed dari Al-Imdaad Foundation. Vahed dalam teleponnya mengatakan akan mensponsori perjalanan hajinya yang dilakukan pada tahun ini. "Begitulah hingga akhirnya sekarang ada di Tanah Suci," ujarnya.

Ia juga melaporkan perjalanan hajinya untuk Channel Islam International. Menurut Moletsane, bagi seorang yang baru masuk Islam, perjalanan ke Tanah Suci melahirkan kekaguman dan ketakjuban. Apalagi saat menatap Ka'bah. "Ketika menatap Ka'bah, saya dapat merasakan kehadiran Allah. Sebuah perasaan yang tak bisa digambarkan," tambahnya.

Sejumlah kejutan Moletsane temukan di Tanah Suci. Termasuk pengalamannya di Madinah. Ia tiba pada 18 Oktober lalu. Ia menemukan komunitas yang hidup berdampingan dalam ketulusan. Suatu hari, ia secara tak sengaja meninggalkan telepon selulernya di sebuah toko.

Hari berikutnya, ia menyadarinya dan kembali ke toko itu. Moletsane menemukan teleponnya dan si pemilik toko menyerahkan telepon itu kepadanya. Ia mengatakan, hal ini menunjukkan persaudaraan. Ia mengungkapkan, banyak warga Afrika Selatan dan orang tuanya sendiri memiliki persepsi yang salah tentang Islam.

Penyiar Channel Islam International, Ebrahim Moosa, mengatakan, laporan-laporan yang disampaikan Moletsane disimak oleh banyak pendengar di negara-negara stasiun radio ini dikenal.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/11/17/147154-setahun-menjadi-mualaf-doanya-naik-haji-langsung-terkabul

Gema Syahadat Para Mualaf di Masjid Sunda Kelapa

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Hujan lebat mengguyur kawasan Jakarta, khususnya Menteng, Jumat (12/11) siang. Hujan yang turun saat shalat Jumat baru saja usai ditunaikan itu membuat ribuan jamaah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, lebih memilih untuk bertahan sembari menunggu hujan reda.

Apalagi pada saat bersamaan, di masjid tersebut ada prosesi pengislaman tiga mualaf. Mereka adalah Juan Alvarez Vita ( Duta Besar Peru untuk Indonesia), Julien Meltzer (seorang musisi asal Prancis), dan Peter John Cass (seorang pensiunan asal Kanada). Upacara pengucapan syahadat tersebut dipimpin Ustaz Dr H Abdurrahim Yapono MA dan disiarkan langsung melalui CCTV sehingga bisa disaksikan dengan jelas oleh para jamaah, baik yang berada di lantai satu maupun lantai dasar.

Setiap kali salah seorang dari mereka mengucapkan syahadat, jamaah berseru, "Allahu Akbar". Setelah itu, Ustaz Abdurrahim bertanya dalam bahasa Inggris, "Sekarang, apa agama Anda?" Mereka menjawab, "Islam." Abdurrahim lalu memberikan wejangan singkat mengenai tugas dan tanggung jawab menjadi seorang Muslim.

Dalam acara yang juga dihadiri dan disaksikan oleh dubes dari empat negara sahabat (Saudi Arabia, Iran, Somalia, dan Bosnia) itu, Ustaz Abdurrahim mengupas rukun Islam yang lima. Mulai dari syahadat, shalat fardhu lima waktu, kewajiban berzakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan pergi haji ke Tanah Suci bagi yang mampu melaksanakannya.

Kemudian, ia memimpin doa untuk ketiga mualaf tersebut maupun seluruh jamaah yang hadir. "Ya Allah, bahagiakan ketiga saudara kami ini, bahagiakan mereka di dunia dan akhirat, bahagiakan kami di dunia dan akhirat."

Upacara tersebut ditutup dengan acara pemberian ucapan selamat. Ratusan jamaah menyalami, bahkan memeluk hangat ketiga mualaf tersebut. Wajah ketiganya semringah mendapatkan sambutan yang begitu hangat dari saudara-saudaranya sesama Muslim.

Seusai upacara ikrar syahadat, tiga orang mualaf itu diundang oleh Ketua Dewan Pengurus Masjid Sunda Kelapa, HM Aksa Mahmud, untuk berbincang di ruang pengurus. Dengan senang hati, Juan Alvarez Vita dan Julien Meltzer memenuhi undangan tersebut, sedangkan Peter John Cass sudah pulang lebih dahulu karena ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Juan Alvarez Vita dan Julian Metlzer berbagi cerita tentang perjalanan mereka menemukan Islam. Vita mengatakan, sebelum datang ke Indonesia ia telah mempelajari Islam selama 10 tahun. "Sejak berada di Indonesia empat tahun lalu, saya makin aktif belajar Islam, baik melalui diskusi-diskusi, khususnya dengan dua orang guru saya, Pujadi dan David, maupun membaca berbagai buku tentang Islam dan Alquran," ungkapnya.

Setelah mengenal dan memahami ajaran Islam, Juan merasa ajaran Islam itu sangat indah. "Islam adalah agama yang cinta damai dan sangat menghormati eksistensi manusia. Namun, selama ini Barat melancarkan propanda yang menjelekkan Islam," sesalnya.

Sementara Meltzer mengisahkan sudah mempelajari Islam sejak empat tahun lalu saat masih tinggal di Prancis. ''Dan, saya makin yakin kepada Islam setelah belajar Islam di Indonesia selama dua tahun," ungkap Meltzer.

Pada kesempatan tersebut, Aksa Mahmud memberikan cendera mata berupa Alquran terjemah dan songkok hitam. Ia mengatakan, Masjid Sunda Kelapa secara aktif terlibat dalam kegiatan mengislamkan orang-orang non-Muslim yang memutuskan untuk menjadi Muslim (mualaf).

"Tiap minggu selalu ada orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Sunda Kelapa. Mereka berasal dari berbagai negara," kata pengusaha nasional yang terjun ke politik (menjadi wakil ketua MPR priode 2004-2009 dan anggota DPD priode 2009-2014) dan kini menjadi pengurus masjid itu.

Kepala Bagian Mualaf Masjid Sunda Kelapa, Drs Anwar Sujana, menyebutkan, sejak 1993 sampai saat ini, Masjid Sunda Kelapa sudah mengislamkan belasan ribu orang. "Hingga November 2010, jumlahnya sudah mencapai 15.956 orang," papar Anwar Sujana.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/11/22/148038-gema-syahadat-para-mualaf-di-masjid-sunda-kelapa

Mualaf Prancis Itu Mencari Pencerahan dengan Berhaji

REPUBLIKA.CO.ID,MINA--Usianya baru 25 tahun. Dia belum menikah dan lulusan sekolah manajemen di Selatan Prancis. Sejak lahir, seperti orang tuanya, dia seorang Kristiani. Namun berbagai pertanyaan yang menyesaki otaknya tentang agama lamanya itu justru membawanya mengenal Islam.

Pria yang enggan mengungkapkan nama lamanya ini, setelah menjadi mualaf berganti nama menjadi Abdul Aziz. Dia tampak enggan terlalu dalam mengungkap jati dirinya dengan alasan negaranya tidak terlalu toleran menyikapi perbedaan budaya dan agama, sebuah ironis bagi negara di Eropa dengan komunitas Muslim yang besar.

Aziz mengungkapkan awal perjumpaannya dengan Islam. Sejak lama dia rupanya sudah mempertanyakan ajaran Kristen yang dinilai banyak menyimpan pertentangan. ''Sejak remaja saya kerap berpikir apa yang terjadi setelah kematian,'' ujarnya kepada Arab News. ''Jadi saya banyak mempelajari hal itu dan saya tidaka menemukan jawabannya dalam agama saya yang dulu.''

Karena tak merasa puas, Aziz lantas menanyakan hal itu kepada teman-temannya yang berlatar belakang budaya dan agama beragam. ''Saya berdiskusi dengan teman yang beragama Yahudi dan juga teman-teman Muslim. Kami membahas masalah agama. Tapi jelas ada banyak perspektif sehingga saya memutuskan untuk mempelajarinya sendiri,'' tuturnya.

Aziz lantas banyak belajar dari buku-buku dan internet hingga akhirnya menemukan jawaban yang paling sesuai dalam Islam. ''Dalam Islam tak ada kontradiksi, semuanya logis,'' ujarnya. ''Dalam Kristen, saya menemukan beberapa hal yang kontradiksi.''

Akhirnya setelah melakukan pencarian sekian lama, Aziz memutuskan untuk menjadi mualaf di usia 17 tahun. Dia memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dihadapan teman-temannya. Sementara keluarganya, meskipun tidak terlalu mempertanyakan keputusannya ini, sedikit banyak ingin saling bertukar pikiran mengenai keputusan besar yang diambilnya itu.

''Mereka (keluarga) mengajukan beberapa pertanyaan karena mereka khawatir mengenai gerakan fundamentalis yang coba mempengaruhi orang lain untuk menjadi ekstrimis,'' ungkapnya.

''Saya jelaskan kepada mereka mengapa memilih Islam, karena saya takut mati. Setiap malam sebelum tidur, saya selalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi kelak di akherat. Jadi saya menjelaskan hal ini kepada ayah dan dia bisa menerimanya.''

Dan kini, Aziz masih berada di Makkah usai menunaikan ibadah haji. Dia tak mampu mengungkapkan perasaan hatinya bisa memenuhi rukun Islam kelima ini. Dia berharap bisa menunaikan seluruh rukun Haji dengan benar sehingga mendapatkan pencerahan usai berkunjung ke tanah suci.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/11/19/147614-mualaf-prancis-itu-mencari-pencerahan-dengan-berhaji

Seribu Lebih Warga Kamerun Menjadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID,MINA--Uluran tangan yang diberikan Menteri Kesehatan Arab Saudi, Abdullah bin Abdulaziz Al-Rabeeah, untuk mengoperasi bayi kembar siam asal Kamerun berbuah manis. Tak di sangka, suku asal kembar siam itu yang berada di sebuah desa di Kamerun tersentuh melihat keberhasilan operasi pemisahan kembar siam itu dan kemudian memilih untuk menjad mualaf.

Bayi kembar siam itu, Rahima dan Hamidah, menjalani operasi pemisahan pada April 2007. Diperkirakan sebanyak 1.100 warga suku yang berada di Desa Banky dan sekitarnya telah mengucapkan syahadat usai keberhasilan operasi tersebut. Hal itu disampaikan oleh seorang tokoh Muslim asal suku itu, Sultan Omar, saat bertemu Al-Rabeeah, di di Rumah Sakit Darurat Mina, beberapa hari lalu.

''Operasi yang dilakukan atas bantuan Al-Rabeeah telah membuat kepala suku dan seluruh warga suku saya, dan beberapa orang dari daerah lain di Kamerun memutuskan untuk memeluk Islam secara spontan dan tanpa tekanan apapun,'' ujar Sultan Omar seperti ditulis Arab News.

Omar bersama 26 mualaf itu diundang oleh Raja Saudi untuk menunaikan ibadah haji yang baru saja berlangsung. Di sela-sela ibadah haji ini, mereka menemui Al-Rabeeah untuk mengucapkan terima kasih. ''Kami tidak hanya berutang budi pada Al-Rabeeah, tapi juga pada Raja Abdullah yang telah memerintahkan operasi pemisahan bayi kembar siam itu atas biaya pribadinya. Ini merupakan sikap kemanusiaan yang kita lihat semua,'' tuturnya.

Selain atas bantuan operasi itu, mereka juga menyampaikan terima kasih kepada Kerajaan Saudi karena banyak membantu pembangunan masjid, bendungan, dan membuat proyek gandum di Kamerun.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/11/18/147314-seribu-lebih-warga-kamerun-menjadi-mualaf

Danny Williams: Terkesima Mendengar Suara Azan

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Di atas ring, nama Danny Williams mungkin tidak setenar legenda tinju dunia, seperti Muhammad Ali, George Foreman, Mike Tyson, Evander Holyfield, ataupun Lennox Lewis. Namun, kiprahnya di dunia tinju profesional kelas berat dunia patut diacungi jempol.

Betapa tidak, di hadapan ratusan ribu hingga jutaan pasang mata dibuat tercengang saat menyaksikan pertandingan antara Danny Williams melawan Mike Tyson pada 31 Juli 2004 silam. Ketika itu, Williams yang tidak diunggulkan memukul KO Mike Tyson, sang legenda tinju dunia pada ronde keempat.

Padahal, dalam pertandingan yang diadakan di Freedom Hall State Fairground, Louisville, Kentucky, Williams tidak diunggulkan. Sementara itu, banyak pihak yang mengunggulkan si 'Leher Beton'. Namun, kenyataan yang terjadi sebaliknya. Tyson, yang sempat mendominasi pembukaan dua ronde dalam pertandingan comeback-nya ke dunia tinju, secara mengejutkan berhasil dikalahkan di ronde ke-4.
Atas keberhasilannya ini, Williams lalu mendapat julukan sebagai 'orang yang memukul keluar Tyson'.

Tidak banyak publik yang tahu bahwa Williams adalah seorang Muslim, seperti halnya Tyson. Sebelum memeluk Islam, Williams adalah seorang penganut Kristen yang taat. Ketertarikan petinju asal Inggris ini terhadap Islam bermula saat ia tengah menjalani liburan di Turki tahun 2000. Saat berada di Turki ini, Williams mendengar suara alunan azan. "Aku merinding saat mendengar suara azan tersebut," ujarnya kepada kantor berita BBC.

Sejak itu, pria kelahiran Kota London tanggal 13 Juli 1973 ini mengaku bahwa hatinya mulai terketuk untuk mencari tahu mengenai Islam. "Saat itu, yang ada di pikiranku inilah (Islam, red) cara hidup yang dicontohkan oleh Tuhan dan aku harus mengikutinya," ungkap petinju yang memiliki nama asli Daniel Williams.

Williams mengakui ajaran Islam benar-benar sesuai dengan falsafah hidup yang ingin ia jalankan. Ia juga menemukan kecocokan dengan ajaran Islam. "Saya menemukan ajaran Islam itu sangat mudah. Terutama dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktu meski saya harus bangun pada pukul 03.00 atau 04.00 dini hari untuk menjalankan shalat subuh. Namun demikian, saya tenang dan mendapatkan kedamaian saat menjalankannya," paparnya.

Kepada BBC, Williams mengungkapkan bahwa tantangan terberat setelah menjadi seorang Muslim adalah ketika harus menjalani sesi latihan dan pertandingan di saat bulan Ramadhan. Pengalaman tersebut pernah ia alami di tahun 2006 lalu. Kala itu Williams dijadwalkan akan bertanding melawan Matt Skelton pada Juli 2006.

Dalam duel tersebut, Williams mengalami kekalahan pada ronde ke-3 dan cedera serius pada bagian hidungnya. Kekalahan tersebut, ungkapnya, lebih disebabkan oleh sesi latihan yang dijalaninya menjadi berkurang karena secara bersamaan ia tengah menjalankan puasa Ramadhan. Namun, diakui Williams, dirinya tidak pernah menyesali kekalahan tersebut. Baginya, mampu menjalankan ibadah puasa dengan baik dan sempurna jauh lebih penting dari kemenangan saat bertinju.

"Sepanjang Ramadhan aku memang menghentikan semua kegiatan bertinju karena ingin mengisinya dengan kegiatan ibadah dan memuji Allah. Sebisa mungkin aku berusaha untuk menjadi hamba Allah yang baik pada bulan di mana Nabi Muhammad menerima wahyu untuk pertama kalinya," paparnya beralasan.

Williams menambahkan, dalam bulan puasa, Allah melarang umatnya untuk mencaci, memukul, dan lain sebagainya karena hal itu bisa memengaruhi pahala puasa. "Sebagai Muslim yang baik, tentunya di saat Ramadhan harus melakukan hal-hal yang baik. Tidak ada memukul, berdebat dengan orang, intinya Anda harus dalam kondisi bersih dari perbuatan tercela sebisa mungkin," ungkap Williams, layaknya seorang pendakwah.

Dalam kariernya sebagai petinju professional, tercatat Williams bertanding sebanyak 51 kali. Dari pertarungan sebanyak itu, 41 kali dia memenangkan pertarungan, dan 31 di antaranya dengan kemenangan KO, sedangkan sembilan dari pertarungannya berakhir dengan kekalahan dan sekali tanpa ada keputusan.

Tinggalkan Dunia Tinju untuk Beribadah

Tinju dikenal sebagai salah satu cabang olahraga yang syarat dengan kekerasan fisik, seperti memukul orang. Padahal, di dalam ajaran Islam, ungkap Williams, para pemeluknya dilarang melakukan hal tersebut. Hal itu diakuinya kerap menimbulkan pertentangan di dalam batinnya.

"Aku menyadari betul bahwa pada satu titik aku harus memutuskan apakah akan tetap menjalankan profesi sebagai petinju yang kerap bertentangan dengan ajaran Islam atau harus keluar dari olahraga ini."

Kendati sulit, pada pertengahan tahun ini, Williams memutuskan untuk berhenti dari dunia tinju yang sudah digelutinya selama 15 tahun lebih. Pertarungan melawan Derek Chisora pada 15 Mei 2010 seakan menjadi duel terakhir yang dilakoni Williams di dunia yang telah membesarkan namanya.

Sebelum pertandingan, kepada pers Williams mengungkapkan bahwa pertarungannya dengan Chisora kemungkinan akan menjadi penampilannya yang terakhir di atas ring, baik hasilnya ia menang maupun kalah.

"Setelah tidak lagi bertinju, mungkin saya akan melakukan pekerjaan di bidang keamanan. Tetapi, sebelum saat itu tiba, saya masih ingin mengejar impian saya untuk menjadi juara dunia kelas berat," ujarnya dalam sebuah kesempatan sebelum pertarungannya dengan Chisora.

Dalam pertandingan tersebut, Chisora berhasil memukul KO Williams pada ronde kedua dan keluar sebagai juara. Ia pun memutuskan untuk tidak meneruskan kegiatannya dalam bertinju dan fokus mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/09/27/136705-danny-williams-terkesima-mendengar-suara-azan